Menemukan Motivasi Belajar Siswa

Pada tahun ajaran baru, beberapa sekolah dasar menerima murid-murid baru yang berasal dari bermacam-macam TK dan bermacam-macam kebiasaan di rumah yang selalu terbawa di sekolah. Pada masa ini, kebiasaan-kebiasaan, seperti bermain, mewarnai, dan menebalkan sangat sulit untuk langsung diubah ke tingkat membaca, dikte, menghitung, menulis, dan menghafal. Perubahan tersebut tentu memerlukan waktu. Berapa lamakah waktu yang harus dihabiskan? Jawabnya maksimal 2 bulan, kebiasaan-kebiasaan dari TK harus segera dikembangkan pada kemampuan membaca, menghitung, dan menghafal, karena semakin lama siswa menyesuaikan diri dalam kegiatan belajar mengajar, maka semakin tertinggal dia dalam memahami pelajaran tersebut dan semakin malas dia untuk mengikuti pelajaran.

Beberapa murid ada yang sangat memerlukan motivasi untuk dapat mengikuti pelajaran, karena masih kurangnya kesadaran dalam arti pentingnya belajar. Untuk menjawab persoalan tersebut, tentu memerlukan beberapa metode mengajar yang harus digunakan oleh guru, untuk menyeimbangkan antara anak yang telah mampu mengikuti pelajaran dan perlu perhatian dalam belajar. Dalam pelaksanaannya penggunaan beberapa metode dalam sebuah kegiatan belajar mengajar tidak 100 % berhasil dalam mengatasi persoalan tersebut. Metode-metode tersebut biasanya bertahan pada saat penjelasan materi yang akan disampaikan, namun setelah kegiatan berpindah pada kegiatan pengaplikasian hasil dari apa yang telah diperhatikan dari penjelasan guru, terkadang hasil yang diinginkan tidak maksimal dan diperparah dengan keengganan atau munculnya rasa malas murid untuk menuliskan atau melakukan apa yang guru inginkan.

Motivasi terbagi atas dua macam, motivasi dari dalam dan motivasi dari luar. Motivasi dari dalam muncul bila ada pemahaman si anak tentang tujuan dari apa yang akan dicapainya atau sebuah bentuk kesadaran yang timbul dari si anak itu sendiri. Biasanya motivasi ini akan bersifat kekal selama tujuan itu belum tercapai. Sedangkan motivasi dari luar muncul bila ada pancingan dari luar anak untuk melakukan apa yang diinginkan oleh si “pemancing”. Biasanya motivasi ini tidak bertahan lama, bila umpan-umpan untuk memotivasi masih menarik, maka kegiatan masih tetap berjalan, namun tidak selamanya seorang guru mampu terus mengumpan anak untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itulah meskipun telah digunakan beberapa metode dalam mengajar masih ada anak yang belum  mampu mengikuti dengan maksimal pelajaran. Dari kedua motivasi di atas, maka motivasi dari dalam diri siswalah yang perlu dikedepankan.

Dalam beberapa kesempatan saya mencoba beberapa cara untuk memotivasi siswa saya kelas 1 SD, meskipun belum maksimal meningkatkan motivasi siswa, alhamdulillah telah mampu membantu atau meningkatkan motivasi siswa ketika mengalami kejenuhan dalam melakukan tugasnya. Langka-langkah tersebut diantaranya

1. Menemukan cita-cita anak

Dalam kelas buatlah sebuah tempat untuk anak menuliskan cita-citanya. Agar mudah untuk diperhatikan oleh anak, maka buatlah tempat itu menarik dan terletak pada tempat yang strategis dapat dilihat. Setelah anak-anak diberi kesempatan untuk menuliskan cita-citanya, guru akan mudah untuk mengajak feeling anak pada arti pentingnya belajar. Kegiatan ini dapat dilakukan sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Setelah membaca doa sebelum belajar guru dapat mengajak siswa berkomunikasi tentang cita-cita yang dipilih oleh siswa, dengan harapan si anak sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar motivasi instrinsik telah tertanam pada si anak. Dan pada saat siswa menglami titik jenuh yang tinggi.

Sebagai contoh, bila salah seorang anak yang memerlukan perhatian, memilih menjadi seorang dokter. Guru dapat mengatakan kepadanya. kamu benar-benar ingin menjadi dokter, kamu tahu dokter itu bagaimana. Seorang dokter harus bisa memutuskan sesuatu tanpa bantuan orang lain, karena bila pada suatu ketika tidak ada orang yang memerlukan bantuannya, sedangkan tidak ada seorangpun yang ada pada saat itu. tentu si pasien terbengkalai dan semakin parah sakitnya. Contoh lain, bila seorang anak bercita-cita ingin menjadi pilot. Guru dapat mengatakan kepadanya. “ seorang pilot itu pintar berhitung, dia tidak setiap saat bertanya untuk memperhitungkan, kapan pesawat akan menghindari gunung, berapa kecepatan yang ideal digunakan dan kapan untuk lepas landas,  karena keselamatan penumpang ada pada kesiapan si pilot, bila setiap akan melakukan sesuatu dia bertanya, tentu pesawat tersebut dalam keadaan bahaya.

Pada suatu hari ada salah satu siswa saya yang mengalami tingkat kejenuhan dan kemalasan yang sangat tinggi, tugas yang saya minta untuk dikerjakannya belum satu ia tulis. Sayapun mendekatinya, dan berkata, Royhan mau menjadi tentara besar nanti, dia menjawab Iya pak guru, sayapun berkata kok tentara malas nulis, tentara itu selalu semangat, selalu disiplin, tidak ada rasa malas sedikitpun, kalau seorang tentara selalu malas-malasan pada saat perang tentu dia akan cepat ditembak oleh musuh, dan bila Royhan malas-malasan seperti ini tidak akan mungkin bisa jadi tentara, mau menjadi tentara ada tes lo, harus bisa baca, bisa menulis, bisa berhitung dan masih banyak lagi. Setelah ia mendengar sugesti yang saya sampaikan diapun dapat menyelesaikan tugas tersebut.

2. Bercerita

Cerita adalah sebuah bagian yang mulai terlupakan pada kegiatan belajar mengajar, selain padatnya materi yang harus disampaikan dan kurangnya penguasaan guru dalam bercerita adalah penyebab tidak digunakan lagi metode ini untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Bercerita adalah sebuah metode yang sangat menarik bagi siswa SD, karena melalui cerita guru dapat memasukkan pesan-pesan yang dapat mengobati sakitnya motivasi siswa. Cerita tentang seorang anak penjual koran yang belajar sambil berjualan, tentang anak yang malas belajar, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk cerita bermakna yang dapat kita sampaikan. Tentu timbul pertanyaan. Bagaimana mau meluangkan waktu untuk cerita, waktu untuk mengajarpun sangat sedikit?. Apakah anak akan menerima semua pelajaran bila kondisi anak tidak mau menerima pelajaran tersebut?. pertanyaan ini yang sering terlupakan oleh para guru, sering guru hanya mementingkan program pengajaran telah tercapai, kemampuan penguasaan siswa terabaikan. Alangkah baiknya meskipun waktu belajar terpakai sedikit untuk bercerita, namun anak mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Untuk merubah fenomena tersebut tentu sangat dipengaruhi oleh sifat profesional guru tersebut.

Posted on 11 Agustus 2009, in Artikel Guru. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Media Guru

Belajar Sepanjang Hayat

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: